Sabtu, 04 Februari 2012

Jangan Tinggalkan Kami


“Gorengan….gorengan…” teriak Titin anak remaja yang setiap hari sepulang sekolah menjajakan gorengannya untuk membantu ibunya.
Ibunya yang hanya buruh cuci, tak bisa mencukupi kebutuhan 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit ginjal. Titin masih kelas 2 SMA sedangkan adiknya masih duduk dikelas 1 SMP.
Belakangan ini ibunya sering mengeluh pusing dan sakit perut. Titin sebenarnya ingin membawa ibunya kerumah sakit, tapi apa daya dia tidak memiliki uang untuk biaya pemeriksaan dan menebus obat.
 Dia hanya membelikan obat diwarung terdekat yang harganya dapat dijangkau. Kini semenjak ibunya sakit-sakitan dia sebelum berangkat kesekolah mencuci pakaian tetangga dan jika ada bahan yang dimasak dia memasak dulu untuk sarapan. Adiknya membantu menyapu dan mencuci piring.
“Ibu…Titin berangkat kesekolah dulu ya?”pamit Titin kepada ibunya sambil mencium tangan ibunya.
“Bagas juga bu..”
“hati-hati dijalan ya nak,”jawab ibunya dengan suara lirih
“Assalamu’alaikum”ucap mereka
“Wa’alaikumsalam”jawab ibunya
Ibu Lastri bangga mempunyai anak seperti mereka. Yang selalu nurut dan rajin. Hampir setiap malam saat ia melakukan sholat sunnah lail, ia meneteskan air matanya. Dalam hening sepi dan gelapnya malam, ia berdoa “Ya Allah, terimakasih Engkau telah menganugrahkan Titin dan Bagas kepadaku. Sungguh itu merupakan harta terindah dalam hidup hamba. Ya Allah kabulkanlah cita-cita mereka. Tuntunlah mereka agar selalu melangkah dijalan-MU. Amin “

@                     @                     @

“Ibu, tabungan Titin buat ibu berobat saja.”
“Gak usah Nak, itukan buat bayar SPP kamu sama adik kamu.”
“gak papa Bu, Titin ikhlas kok, asalkan ibu bisa sembuh.”
“enggak, ibu gak sakit kok Nak.” Ucap bu Lastri sambil memeluk anaknya.
Tidak terasa tetes demi tetes butiran bening jatuh membasahi pipi mereka. Sampai rasa kantuk menyerang mereka dan akhirnya mereka tidur berdua.
Tengah malam bu Lastri terbangun karena ia merasakan pusing. Diambilnya minyak kayu putih lalu dioleskan ke keningnya. Tapi rasa pusing itu masih saja menggerogti kepalanya. Bu Lastri hanya memandangi Bagas dan Titin sambil tersenyum. Dia tidak membangunkan mereka yang lagi asyik merangkai mimpi-mimpi indah. Karena dia tidak ingin anaknya melihat dia kesakitan. Sampai pagi datang bu Lastri tidak bisa tidur, ia hanya rebahan di ranjang yang sudah reot dimakan usia.
Tak lama kemudian Bagas dan Titin bangun. Setelah mereka menjalankan sholat subuh, lalu mereka melaksanakan tugas masing-masing. Dan kemudian mereka berangkat kesekolah.

@                     @                     @

Pagi jelang siang, rasa sakit dikepala masih saja menyiksa. Dengan langkah tertatih-tatih bu Lastri berjalan kebelakang untuk mengambil air wudlu dan sholat dhuha. “Barangkali aja dengan aku sholat, rasa sakitku ini sedikit berkurang”, gumam Bu Lastri dalam hati. Sholat sunnah 2 rokaat itupun ia lakukan dengan duduk. Karena ia tidak mampu berdiri terlalu lama. Sholat telah ia lakukan tapi rasa sakit masih menghinggapi wanita separuh baya itu. Tak henti-hentinya Bu Lastri mengucapkan istigfar. Sampai ketukan pintu menghentikannya.
“Bu Lastri..”panggil mbok Yem tetangga sebelah
“ya, sebentar.” Sambil melepas mukena ia berjalan dengan tertatih-tatih. Namun pusing dikepalanya semakin bertambah sakit.
“Ini bu, tadi saya habis masak soto.”ucap mbok Yem
“Oh ya makasih ya mbok, repot-repot segala.” Sambil menaruh mangkok dimeja dengan tangan yang bergemetar.
“gimana bu, udah baikan belum”?tanya mbok Yem
Baru saja Bu lastri mau menjawab pertanyaan mbok Yem, rasa sakit dikepala kembali menyerang, dan Bu Lastri akhirnya jatuh pingsan.
Mbok Yem yang panik kemudian memanggil Pak Karta yang kebetulan lewat.
“Pak…Pak…tolongin Bu Lastri pingsaan”.
Dengan gesit Pak Karta berlari masuk kedalam.
“Mbok, ini harus dibawa ke Rumah Sakit” kata Pak karta
“ya”. tanpa ba bi bu Mbok Yem kemudian berlari tergopoh-gopoh menuju rumah Pak Edi untuk dimintai tolong mengantarkan Bu Lastri ke Rumah Sakit.
Dengan sigap Pak Edi langsung membawa Bu Lastri ke Rumah sakit. Dan tetangga-tetangga pada datang.
Tetapi sampai di Rumah Sakit, nyawa Bu Lastri tidak tertolong lagi. Kemudian Pak Edi mengabari warga bahwa Bu Lastri meninggal dunia.
Ternyata Titin dan Bagas sudah pulang dari sekolah. Mereka berniat akan menengok ibunya ke Rumah sakit. Tetapi dilarang oleh mbak Betti. “Gak sah ke Rumah Sakit aja, ibu kamu bentar lagi pulang kok”, ucap Betti
“Alhamdulillah..”ucap Titin dan Bagas hampir bersamaan.
Tetapi Titin mencium ketidakberesan dengan ini semua. Rasa gelisah tiba-tiba menghantui gadis malang tersebut. “Ya Allah…semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibu”,doa Titin dalam hati.
Tak lama kemudian jenazah Bu Lastri datang.
Betapa terkejutnya Bagas dan Titin, saat melihat ibunya sudah terbujur kaku.

“ibuuuuu….jangan tinggalkan kami”, teriak Titin sambil menghoyak-hoyak tubuh kaku ibunya.
Warga yang melihatnya juga menitikkan air mata.
“Sabar ya Le…Nduk…ini ujian dari Allah, kalian harus terima dengan ikhlas. Biar ibumu dimudahkan jalannya dan dilapangkan kuburnya.”nasehat Mbok Yem yang juga ikut menangis.
Akhirnya jenazah Bu Lastri dimakamkan di samping kuburan suaminya.
Usai pemakaman, saudara dan sebagian warga masih berkumpul di rumah duka. Membahas nasib Bagas dan Titin setelah ditinggalkan ibunya.
Setelah musyawarah hampir 30 menit akhirnya sepakat bahwa Titin dan bagas akan ikut tantenya yang dari Yogyakarta. Mereka akan disekolahkan disana.

Jumat, 03 Februari 2012

si mata sipit


Untukmu si mata sipit yang selalu hadir di hidupku
Kenapa hari ini kamu tak ada kabar?
Kemana aja kamu?
Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?
Ada apa?
Aku disini resah menunggu kabar darimu.
Biasanya malam seperti ini kita disibukkan dengan menggerak-gerakkan jemari lewat tombol-tombol lembut handphone.
Tapi kenapa dengan malam ini?
Malam ini terasa sepi tanpa kehadiran pesan singkat darimu,
Ah si mata sipit….dimana sih kamu???
Ayoo dong sms aku, si mata sipit

Rabu, 01 Februari 2012

Kamulah Bintangku


Bintang. Sebuah panggilan yang aku berikan kepada kamu. Cowok yang telah aku kenal hampir 3 tahun lamanya. Dimataku kamu itu unik, cuek, kadang perhatian, nyebelin, tapi kadang baik hati juga. Aku memanggil kamu Bintang karena hanya kamu yang selalu menerangi hatiku disaat suka dan duka. Tetapi aku memanggil kamu Bintang cukup dalam hati saja. Karena aku takut ketahuan kalau aku ternyata diam-diam mulai jatuh cinta padamu. Entah karena apa aku juga tidak tau. Yang jelas kamu adalah penghasil rindu setiap malam ku. Walaupun aku tahu kamu kadang tidak selalu berbuat baik padaku, tapi sadarkah kamu bahwa kamu selalu terlihat indah dimataku.
Kadang aku bingung dengan sikapmu. Kadang kamu baik dan perhatian sama aku, tapi kamu lebih sering nyebelin banget sama aku. Banyak yang bilang kalau kamu itu juga suka sama aku, tapi dengan cara yang berbeda. UNIK ! tapi aku menyangkal saat beberapa orang mengatakan begitu, karena aku tahu, kamu masih belum bisa melupkan mantan kamu. Setiap orang memang punya masa lalu, tapi jangan sampai terlalu larut dengan masa lalu, karena masa depanlah yang menentukan hidupmu bukan masa lalumu. Aku juga punya masa lalu, makanya kita sama-sama mengubur masa lalu dan membangun masa depan.
Bintang…kau mungkin tidak akan mengerti perasaan ini sebelum melihat air mataku, sehingga kau sadar bahwa aku mencintaimu dan rela menunggumu. 6 bulan yang lalu saat kamu bilang bahwa kamu telah jadian dengan cewek pilihan mu, tau kah kamu apa yang terjadi? Aku menangis semalaman! Dikampus pada nanyain “kenapa dengan mata kamu Chika?kamu habis nangis ya?” serentetan pertanyaan selalu datang saat aku berjumpa dengan temanku.
Ah Bintang, ini semua gara-gara kamu! Andai kamu tidak mengantakan seperti itu, aku tidak akan banjir air mata. Tapi…setelah aku mengingat bahwa diantara kita tidak ada status hubungan, aku tidak ada hak apapun atas semua ini. Pasrah pada Yang Maha Kuasa.
Ternyata hubungan kamu dengan cewek pilihanmu itu hanya bertahan dua bulan. Kamu mengirimi pesan singkat padaku bahwa kamu telah PUTUS dengan dia. Seperti layaknya anak kecil dikassih permen lollipop, aku teriak kegirangan. Alhamdulillah Ya Allah..ternyata dia sudah putus. Hahaha bahagia diatas derita orang lain. Dengan sikap sok kaget dan turut berduka , aku menanyakan “kenapa putus?”
“dari awal aku memang tidak benar-benar mencintainya kok.”
Kaget sih membaca jawabannya. Tapi lagi-lagi aku kegirangan. Hahahay
Sekarang intensitas hubungan komuniksi antara aku dan dia semakin sering. Hampir setiap malam pesan singkatnya mampu mengganggu kerja sel otakku. Karena bayangan wajahnya menari-nari diotakku. Dan setiap pagi kamulah yang pertama menghiasi inbox di handphone aku. Walau Cuma sapaan, tapi itu sudah cukup membangkitka semangat tuk menjalani aktifitasku. Tapi tidak sering juga kamu membuat ku sebal dengan tingkahmu itu. Tapi entah kenapa aku tidak bisa marah sama kamu.
Sampai sekarangpun aku masih bingung dengan perasaanmu. Kamu cinta gak sih sama aku? jangan kau buat aku tersiksa seperti ini? Beri aku status yang jelas. Jangan kau gantung perasaan ku seperti ini.
Untukmu bintangku yang telah menerangi hatiku selama ini. Cepat kau beri aku status yang jelas ya!
Dari cewek yang hampir 3 tahun mengagumimu :)

Kamis, 22 Desember 2011

salahkah bila aku mencintaimu?



Aku terus melangkahkan kakiku menelusuri lorong-lorong kampus sambil clingukan mencari dia. Ya dia, aku hanya mencari dia. Dia pria bermata sipit, berkulit putih dan bertubuh tinggi. Hari ini aku mencarinya, karena ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya.
“ach dimana sih dia? Di SMS pending ! ditelfun gak bisa  !”
Setelah hampir 15 menit melangkahkan kakiku ini,ternyata dia lagi asyik hostpotan di depan loby rektorat. Langsung deh aku omelin dia. Tapi dia hanya cengar-cengir saja dan bilang “sorry, hanphone aku mati”.
Sambil mengeluarkan sesuatu dari tasku, aku duduk disampingnya. Aku telah berjanji padanya mau membelikan oleh-oleh, waktu aku liburan di Bandung kemarin. Aku beliin dia kaos putih bertuliskan I   Bandung. Sambil senyum aku kasihkan kaos itu. Dia senang banget menerimanya dan mengucapkan terimakasih padaku. Sengaja aku pilihkan warna putih, karena aku tau dia suka sekali dengan warna putih.
   
Aku dan dia sudah saaling kenal hampir sekitar 1 tahun.
Hampir setiap hari kami bertemu, bertegur sapa, dan mengobrol. Dan kami juga saling menjaga komuikasi setiap hari. Dia selalu hadir menghiasi inbox di hanphone aku. Apa yang dia tuliskan lewat SMS selalu membuat dirikku ini senyum-senyum tak jelas.
Tapi… 2 minggu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa dia sudah punya kekasih baru. Bagai disambar petir di siang bolong hatiku seketika panas, bahkan gosong ! ingin marah dan serasa tidak mempercayai ini semua !
Malamnyapun aku tidak bisa tidur, walaupun sudah aku paksakan mataku untuk terpejam, tapi kata-kata-kata temanku itu masih terngiang-ngiang ditelingaku. Dan bayangan dia masih berlarian di otakku. Sudah hampir jam 12 malam akupun masih belum bisa tidur. Butiran-butiran bening masih terus saja membanjiri pipiku. Penyakit galau stadium 4 rupanya telah berhasil masuk ketubuhku.
   
Siang hari disebuah Mall yang terletak dia daeraeh Solo, aku jalan-jalan bersama teman-temanku. Baru asyik memilih aksesoris, tiba-tiba tatapan mataku tertuju kearah cowok dan cewek yang lagi asyik jalan berdua. Tiba-tiba glek !! jantungku seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Cowok itu kan????
“San.. San.. cowok itu Bara apa bukan?”Tanyaku pada Susan sahabatku.
“Yang mana?”tanyanya sambil clingukan
“Itu lhoooh yang makai hem kotak-kotak warna biru, yang jalan ma cewek itu lho..!” jawabku menggebu sambil melirik kearah pasangan kekasih yang menurutku sangat sangat dan sangat tidak serasi sama sekali.
“owh itu ya? iya ik itu Bara ! sama cewek ! hahaha ada yang galau nih?” celoteh Vika sahabatku juga
“aaaarrrggghh…bodo’ yukz bayar terus keluar!” ajakku sambil dongkol.
Setelah membayar gelang dan bros, aku dan teman-teman melanjutkan jalan-jalannya. Sampai dilantai 3 tanpa sengaj aku bertemu dengan pasangan tak serasi itu lagi. Masih dengan jarak radius beberapa meter , jantungku derdegup sangat kencang dan perasaan aneh muncul tiba-tiba.
“aduh Vik, aku harus gimana nih?”tanyaku panik.
“sudah kamu bersikap biasa saja”, jawab Vika cuek
Sepertinya dia juga melihatku. Kemudian mereka berdua yang semula jalan bareng jadi pisah. Bara disepan sedangkan ceweknya dibelakang dengan menjaga jarak. Entah kenapa setelah melihat aku mereka jadi jaga jarak.  Padahal sebelumnya mereka tadi jalan berdua dengan mesra.
“apa jangan-jangan dia takut ketahuan sma aku kalau dia sekarang sudah punya cewek?”ach segala macam pertanyaan menghantuiku”.
“Eh Tata, ketemu disini juga.” Sapa Bara sambil berhenti sejenak, sementara ceweknya terus berjalan dan kemudian berhenti.
“hehehe iza ”, jawabku sambil menahan rasa grogi
“ayo ikut aku jalan-jalan”, ajak dia dengan santai namun mampu mengobrak-abrik perasaanku.
“thank you, kamu duluan aja”, jawabku dengan senyum sambil menyembunyikan perasaan dag dig dug ku itu.
Entah kenapa setiap kali aku bertemu dengan dia, ada rasa yang luar biasa, rasa gundah, gelisah, dan jantung berpacu sangat cepat.
Inikah cinta?
Hanya satu kata, tapi aku tak bisa mengartikannya.
Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan dia terus, tapi tidak dengan “ekornya” itu. Karena akhir-akhir ini dia jadi agak aneh. Dia sekarang jadi jarang telfun, bahkan untuk sekedar menyapaku lewat SMS aja bisa dihitung dalam 1 minggu.
Terkadang aku birfikir, “emangnya aku itu siapa dia sih? Aku Cuma oranng asing yang tidak sengaja masuk kedalam kehidupan dia”.
Jadi bukan salah dia kalau dia bersikap begitu.
Tapi…. Tapi…. Aku terlanjur jatuh hati padanya. Padahal dia sudah punya seseorang yang benar-benar dia cintai.
 Salahkah bila aku masih menaruh harapan padmu?
Salahkah bila aku menginginkanmu?
Salahkah bila aku memikirkanmu?
Dan salahkah bila aku masih bertahan mencintaimu?
Biarkanlah sang waktu yang menjawab, semua akan indah pada waktunya.

Minggu, 18 Desember 2011

Surat cinta untuk Ibu



Ibu seorang wanita perkasa berusia 41 tahun. Dia sumber semangatku, dia sumber inspirasiku.
Ibu yang mengandungku selama 9 bulan, merawatku dan membesarkanku hingga aku beranjak dewasa.
Ibu yang tak pernah lelah membimbingku dan kedua adikku.
Ibu yang selalu sabar mengasuh kami.
Ibu yang tak henti-hentinya berdoa agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholekhah.
Ibu yang tak pernah bosan mendengarkan curhatanku, keluh-kesahku. Ya, aku memang lebih dekat dengan ibu. Banyak yang bilang antara aku dan ibu seperti layaknya seorang adik kakak. Memang usia kami hanya beda 20 tahun.
Kami sering pergi berdua. Ibu kemana-mana minta tolong diantarkan olehku. Karena ibu todak bisa naik motor ( trauma pernah jatuh dipinggir jurang) walau terkadang aku ogah-ogahan jika disuruh. Padahal ibu dengan tulus memberikan kasih sayangnya dan dengan ikhlas ia korbankan waktu dan jiwanya agar anak-anaknya bahagia.
Ibu yang rela tidak tidur hanya untuk merawat dan menjagaku ketika aku sakit.
Ibu yang dengan setia dan sabar membersihkan luka dan membalut perban ditanganku ketika aku habis jatuh kemarin.
Tapi kenapa terkadang aku masih membantah jika disuruh? Ya Allah sungguh berdosa diriku ini.
Ibu… maafkan aku, maafkan keegoisanku, walau aku tau, tanpa aku minta maafpun kau telah memaafkanku. Sungguh mulia hatimu ibu :*
Ibu… ,aafkan anakmu ini, jika belum bia buat ibu bahagia. Aku berjanji, aku akan sungguh-sungguh belajar supaya bisa cepat dapat gelar SEsy (Sarjana Ekonomi Syariah) dan mendapat pekerjaan yang aku dan ibu harapkan. Amin

Ibu.. terimakasih kuucapkan padamu. Kasih dan sayangmu benar-benar tak bisa ku balas.
Memang bennar jika surge itu dibawah telapak kaki ibu.
I love u mom :*